Triple Crown 2017 Adalah Target Yamaha

Yamaha optimistis dengan prospek duet Valentino Rossi dan Maverick Vinales di musim 2017. Sapu bersih alias triple crown diusung menjadi target mereka. Pabrikan Jepang itu empat kali dalam sembilan musim terakhir pada 2008, 2009, 2010 dan 2015 saat Rossi masih berduet dengan Jorge Lorenzo. Setelah kepergian pebalap Spanyol itu ke Ducati, Yamaha mendapatkan Maverick Vinales. […]

Yamaha optimistis dengan prospek duet Valentino Rossi dan Maverick Vinales di musim 2017. Sapu bersih alias triple crown diusung menjadi target mereka. Pabrikan Jepang itu empat kali dalam sembilan musim terakhir pada 2008, 2009, 2010 dan 2015 saat Rossi masih berduet dengan Jorge Lorenzo. Setelah kepergian pebalap Spanyol itu ke Ducati, Yamaha mendapatkan Maverick Vinales.

Meski baru akan menjalani musim perdananya, Vinales tampil menjanjikan setidaknya dilihat dari hasil tes pramusim. Di Valencia dan Sepang selalu menjadi pebalap tercepat. Sedangkan Rossi masih terus dalam perburuan gelar juara dunia. Bos Yamaha Lin Jarvis tidak ragu triple crown bisa diraih.

“Valentino dalam tiga tahun terakhir selalu finis kedua-kedua-kedua. Itu sangat impresif. Dia akan berusia 38 tahun pada pekan depan, 16 Februari. Jadi untuk mempunyai kecepatan seperti itu di usianya adalah hal yang fenomenal. Sudah jelas dia masih punya potensi untuk memenangi titel juara dunia kesepuluh,” kata Jarvis.

“Maverick, menurut saya, adalah pesaing serius gelar juara di tahun ini. Dia beradaptasi dengan sangat, sangat baik dengan tim dan motor. Dia nyaman dan fokus. Apa yang luar biasa adalah di setiap tes, dia yang tercepat.” “Jadi kami memiliki dua pebalap dengan kemampuan tinggi. Saya pernah menyatakan di peluncuran tim MotoGP beberapa pekan lalu bahwa kami akan mengejar triple crown. Jadi kami benar-benar menginginkan titel tim, konstruktor, dan para pebalap. Saya pikir kami bisa. Kami akan mencoba,” cetus Jarvis, sebagaimana dikutip Crash.net.

Sumber : sport.detik.com

Perpaduan yang Apik Bagi Yamaha

Bos Yamaha Lin Jarvis meyakini adanya atmosfer positif di antara Valentino Rossi dan Maverick Vinales. Keduanya disebutnya akan jadi kombinasi yang sangat baik. Rossi bertandem dengan Jorge Lorenzo di Yamaha dari 2007-2010, dan setelah pebalap Italia itu kembali dari Ducati pada 2013. Duet Rossi dan Lorenzo pernah menghadirkan triple crown: pebalap, tim, dan konstuktor pada […]

Bos Yamaha Lin Jarvis meyakini adanya atmosfer positif di antara Valentino Rossi dan Maverick Vinales. Keduanya disebutnya akan jadi kombinasi yang sangat baik. Rossi bertandem dengan Jorge Lorenzo di Yamaha dari 2007-2010, dan setelah pebalap Italia itu kembali dari Ducati pada 2013. Duet Rossi dan Lorenzo pernah menghadirkan triple crown: pebalap, tim, dan konstuktor pada 2008, 2009, 2010, dan 2015.

Kendati demikian, relasi Rossi dan Lorenzo tidak mulus. Kedua pebalap itu beberapa kali terlibat persaingan sengit di dalam lintasan beberapa kali sampai akhirnya Lorenzo hengkang ke Ducati pada tahun ini. Yamaha kemudian merekrut Vinales dari Suzuki. Pebalap Spanyol itu bersinar di musim lalu dan berpotensi jadi kuda hitam dalam perburuan gelar juara musim ini menyusul performa apik di dua tes pramusim di Valencia dan Sepang.

“Sejauh ini saya harus bilang (hubungan) sangat baik … Mereka saling menghormati — Valentino selalu menjadi idola Maverick dan dia terus menganggapnya demikian,” ungkap Jarvis di Crash.net. “Jadi tidak ada rasa permusuhan di antara kedua pebalap. Ini benar-benar bagus dan seperti embusan udara segar terus terang saat ini.”

“Apa yang menggembirakan di akhir tes terakhir adalah, para pebalap biasanya berada di daerah masing-masing, menyudahi pekerjaan mereka dan kembali ke hotel. Tapi Maverick sangat penasaran, termotivasi, dan dia mendatangi Valentino: ‘Bagaimana dengan ini? Bagaimana dengan itu? Bagaimana menurutmu?’ Anda bisa melihat Valentino kemudian ikut termotivasi.”

“Valentino — jujur saja — adalah pebalap terhebat yang pernah ada. Jadi bagi kami dengan memiliki pebalap terhebat dalam sejarah, dengan bakat baru terhebat, maka itu adalah sebuah kombinasi yang fantastis. Brilian,” cetus Jarvis. “Valentino juga senang berbagi. Memang dia tidak suka dikalahkan, tapi Anda bisa lihat dengan akademi dia, dia ingin membagi pengalamannya dengan para pebalap muda. Kami bukannya salah beranggapan, karena kalau sudah berada di akhir musim dan mereka berdua bertarung kejuaraan maka dinamikanya berubah. Sementara itu, kami mulai dengan sebuah perasaan yang baik di garasi.”

Sumber : sport.detik.com

Wahyu Aji Berkesempatan Berbincang Dengan Rossi

Kesempatan langka didapat pebalap Indonesia, Wahyu Aji, yang bisa bertemu sekaligus mendapat wejangan dari pebalap top Valentino Rossi. Hal itu didapatkan Aji saat bertemu Rossi di Ciputra World, Kuningan, Jakarta, Minggu (22/1/2017) kemarin. Rossi dan rekannya di Movistar Yamaha, Maverick Vinales, hadir dalam rangkaian acara peluncuran motor baru Yamaha. Sebelumnya Wahyu memang sempat datang menyaksikan […]

Kesempatan langka didapat pebalap Indonesia, Wahyu Aji, yang bisa bertemu sekaligus mendapat wejangan dari pebalap top Valentino Rossi. Hal itu didapatkan Aji saat bertemu Rossi di Ciputra World, Kuningan, Jakarta, Minggu (22/1/2017) kemarin. Rossi dan rekannya di Movistar Yamaha, Maverick Vinales, hadir dalam rangkaian acara peluncuran motor baru Yamaha.

Sebelumnya Wahyu memang sempat datang menyaksikan idolanya itu saat membalap di Sepang, Malaysia musim lalu. Namun, dia tak bisa berbincang dan foto bersama lantaran banyaknya orang yang mengerumuni Rossi. Tapi keberuntungan datang untuk Wahyu ketika dia mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Rossi untuk bercerita banyak hal, soal Sepang hingga movitasi

Motivasi yang diberikan Rossi pun diyakini bisa membuat Wahyu lebih terbakar lagi di ajang balap. Apalagi musim ini ia sudah resmi jadi pebalap Yamaha Racing Indonesia (YRI) dan siap tampil di Asia Road Racing Championship (ARRC) 2017. “Rossi bilang balapan itu harus fokus dan enjoy. Jika mood terganggu bisa merusak balapan. Kita harus bikin nama Yamaha lebih bagus lagi,” ungkap Wahyu kepada detikSport di Sirkuit Sentul, Bogor, Senin (23/1/2017).

Ditanya soal perbandingan Rossi dan Vinales untuk musim depan, pria 23 tahun itu juga mengakui sulit menjabarkannya. Menurut Wahyu, Vinales akan mendapat keuntungan bergabung dengan tim Movistar Yamaha karena merupakan pebalap yang mau berbagi ilmu.

“Susah membandingkan keduanya karena mereka favorit saya. Tapi Rossi orangnya beda dengan pebalap yang lain. Bisa saja dia banyak memberi ilmu ke Vinales, dan Vinales bisa belajar banyak dari Rossi, jika Vinales tidak punya masalah seperti (Marc) Marquez,” sambungnya.

Sumber : sport.detik.com

Kalender MotoGP 2017 Akhirnya di Rilis

Akhirnya kalender resmi MotoGP 2017 dirilis, meniadakan ketidakpastian yang sebelumnya sempat ada pada kalender sementara. Tak ada perubahan signifikan pada kalender ini dibandingkan dengan kalender sementara yang dirilis pada bulan September lalu. Perubahan yang ada bahkan hanyalah dihilangkannya “subject to contract” dari MotoGP Malaysia dan MotoGP Inggris Raya pada kalender sebelumnya. GP Inggris Raya menjadi […]

Akhirnya kalender resmi MotoGP 2017 dirilis, meniadakan ketidakpastian yang sebelumnya sempat ada pada kalender sementara. Tak ada perubahan signifikan pada kalender ini dibandingkan dengan kalender sementara yang dirilis pada bulan September lalu.

Perubahan yang ada bahkan hanyalah dihilangkannya “subject to contract” dari MotoGP Malaysia dan MotoGP Inggris Raya pada kalender sebelumnya. GP Inggris Raya menjadi seri balapan terakhir yang terkonfirmasi, setelah sempat tertundanya finalisasi kontrak antara penyelenggara Dorna, pemegang hak balapan Circuit of Wales, dan Silverstone sebagai tuan rumah balapan.

Berikut kalender resmi MotoGP 2017

944aa8b1-3663-4906-bd69-4f8869460e38

sumber : sport.detik.com

Mungkinkah Vinales Lebih Baik Dari Rossi?

Pembalap muda Indonesia, Galang Hendra (17 tahun), punya kesan tersendiri usai berinteraksi dengan Maverick Vinales di Sentul. Ia juga menilai Vinales bisa menyaingi Valentino Rossi. Vinales, yang musim ini bergabung dengan tim Movistar Yamaha, berkesempatan hadir di acara launching motor Yamaha R15 di Sirkuit Sentul, Bogor, Senin (23/1/2017). Rider asal Spanyol berusia 22 tahun itu […]

Pembalap muda Indonesia, Galang Hendra (17 tahun), punya kesan tersendiri usai berinteraksi dengan Maverick Vinales di Sentul. Ia juga menilai Vinales bisa menyaingi Valentino Rossi. Vinales, yang musim ini bergabung dengan tim Movistar Yamaha, berkesempatan hadir di acara launching motor Yamaha R15 di Sirkuit Sentul, Bogor, Senin (23/1/2017).

Rider asal Spanyol berusia 22 tahun itu melakukan test ride bersama sejumlah pebalap muda Indonesia seperti Galang Hendra, Rey Ratukore, Imaniel Pratna, dan Wahyu Aji. “Vinales sosok yang dingin, tapi ramah meskipun lebih ramah Rossi,” kata Galang kepada detikSport.

“Berbeda dengan (Jorge) Lorenzo,” imbuh pebalap tim Yamaha Racing Indonesia (YRI) itu, merujuk pada mantan rekan setim Rossi yang musim 2017 hijrah ke Ducati. Galang kemudian memberikan prediksinya mengenai persaingan MotoGP 2017, secara khusus mengenai aksi Vinales dan Rossi. Penilaiannya itu turut didasarkan dari tes di Valencia lalu dan umur Vinales–yang lebih muda 15 tahun dari Rossi.

“Vinales punya potensi besar karena usia yang masih muda,” beber Galang.”Jika kita lihat dari preseason di valencia yang lalu, dia langsung bisa ke posisi satu padahal baru pindah dari Suzuki ke Yamaha. Itu hitungannya belum terbiasa dengan motor. Jika sudah terbiasa, dia bisa lebih bahaya lagi. Vinales mungkin bisa lebih bagus dari Rossi,” sambungnya.

Sumber : sport.detik.com

Booking Online Aerox 155VVA, Yamaha Sediakan Unit Terbatas!

Kesempatan besar terbuka untuk menjadi pemilik pertama motor Aerox 155VVA. Peluang itu bisa diperoleh lewat booking online *sporty scooter* teranyar Yamaha itu. Konsumen dapat mewujudkan mimpinya cukup dengan mengakses link www.yamahamotoronline.co.id Di situ Yamaha telah mengumumkan akan melakukan penjualan Aerox 155VVA lewat booking online untuk tiga varian yaitu Aerox 155VVA, Aerox 155VVA – R Version […]

Kesempatan besar terbuka untuk menjadi pemilik pertama motor Aerox 155VVA. Peluang itu bisa diperoleh lewat booking online *sporty scooter* teranyar Yamaha itu. Konsumen dapat mewujudkan mimpinya cukup dengan mengakses link www.yamahamotoronline.co.id Di situ Yamaha telah mengumumkan akan melakukan penjualan Aerox 155VVA lewat booking online untuk tiga varian yaitu Aerox 155VVA, Aerox 155VVA – R Version dan Aerox 155VVA – S Version.

Periode booking online dibuka tanggal 9 – 11 Januari 2017. Dalam waktu tiga hari itu akan ada motor Aerox 155VVA dengan jumlah terbatas yang disediakan untuk jadi milik konsumen. ”Kejutan besar di awal tahun 2017 ini diberikan Yamaha lewat pemesanan online Aerox 155VVA. Dengan jumlah terbatas, tentunya konsumen harus terus memantau link booking online yang sudah kami buatkan. Konsumen yang berhasil mendapatkannya juga punya pride sendiri karena akan jadi pemilik perdana Aerox 155VVA,” papar M.Abidin, GM After Sales Division PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Aerox 155VVA yang secara global perdana diluncurkan di Sepang Malaysia, akhir Oktober tahun 2016 bersama Valentino Rossi, memang sudah ditunggu-tunggu konsumen. Apalagi setelah diperkenalkan di Indonesia saat event Indonesia Motorcycle Show (IMOS) tahun lalu, daya tarik Aerox 155VVA selalu menjadikannya pusat perhatian.

Melihat animo besar masyarakat itu, booking online pun dibuka supaya konsumen bisa memilikinya dengan cara berbeda dan istimewa. Bulan pertama di tahun 2017 ini pun digunakan Yamaha sebagai waktu yang tepat untuk menjaga momentum keinginan kuat konsumen mendapatkan Aerox 155VVA.

*Aerox 155VVA, One Stage Ahead*

AEROX all
Aerox 155VVA didukung mesin 155cc generasi baru yang dilengkapi dengan *Variable Valve Actuation (VVA)*. VVA akan membuat performa tarikan mesin lebih bertenaga. Semua tipe Aerox 155VVA sudah ditanamkan teknologi Blue Core sehingga performa mesin semakin maksimal namun tetap irit bahan bakar. Tipe Aerox 155VVA – S Version warnanya Matt Blue dan White. Tipe Aerox 155VVA – R Version satu warna yaitu Racing Blue. Tipe Aerox 155VVA warnanya Black, Yellow, Matte Red.

Konsumsi bahan bakar Aerox 155VVA semakin irit karena dilengkapi fitur *Stop & Start System (SSS)* yang berfungsi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak perlu pada saat motor sedang berhenti. Semakin lengkap didukung *Smart Motor Generator (SMG) *yang membuat suara motor lebih halus saat dinyalakan.

Dari sisi desain, kesan sporty Aerox 155VVA ditunjang lampu depan dan belakang LED yang lebih terang dan lebih fokus. Speedometer full digital dengan layar LCD besar 5.8 inch dapat memberikan informasi lebih  jelas dengan *Multi Information Display (MID). *Fiturnya mampu menampilkan VVA indicator, Fuel meter, battery indicator, Odometer, trip meter, average Fuel consumption, real time consumption, digital clock, rpm meter.
Penampilan semakin gagah dan sporty dengan ban super wide tubeless tire.

Kehadiran Aerox 155VVA juga menjadi sejarah kemunculan teknologi Smart Key System di Indonesia. Yamaha lagi-lagi menjadi pelopor munculnya teknologi baru sepeda motor, setelah sebelumnya menjadi perintis kehadiran sepeda motor matik di tanah air melalui Yamaha Mio. Tipe Aerox 155VVA jadi motor yang berkesempatan menyajikan fitur kelas dunia Smart Key System.

Smart Key System memperkenalkan konsumen kepada sistem kunci canggih tanpa anak kunci (*Keyless*). Fitur ini membuat berkendara semakin praktis dan aman karena disematkan fitur *Immobilizer *dan *Answer Back System* untuk memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor. Aerox 155VVA juga dilengkapi dengan sistem ABS (Anti-lock Brake System). ABS akan membantu pengendara memaksimalkan kontrol pengereman. Sehingga berkendara akan semakin aman.

Khusus Aerox 155VVA – R Version, DNA sport semakin terasa kuat berkat cakram depan model “Wave-Type Disc Brake” ukuran 230mm ditambah suspensi belakang sub-tanks type rear suspension berwarna emas, memberikan pengalaman berkendara yang lebih stabil.

Motor idaman ini juga dibekali dengan *Electric Power Socket*. Di era komunikasi seperti sekarang, fitur ini sangat fungsional dan memberi manfaat kepada konsumen. Konsumen bisa tetap terkoneksi dengan rekan kerja karena *smartphone* yang dimiliki bisa di-*charge* sambil berkendara tanpa takut kehabisan daya baterai.

Kenyamanan berkendara bersama Aerox 155VVA semakin ditunjang dengan kapasitas bagasi mencapai 25 liter. Dengan desain bagasi yang luas, sepeda motor ini mampu menyimpan satu helm full-face berukuran XL, jas hujan dan keperluan aktivitas pengendara lainnya.

Tanggapan Yamaha Mengenai Vinales

Yamaha memuji Maverick Vinales yang bekerja sangat baik pada hari pertamanya bersama mereka. Vinales tak cuma cepat di lintasan, tapi juga bisa memberi masukan-masukan yang sangat berharga untuk tim. Vinales menjadi pebalap tercepat dalam tes MotoGP di Sirkuit Ricardo Tormo, Selasa (15/11/2016). Pebalap Spanyol berusia 21 tahun itu mengukir waktu terbaik 1 menit 30,930 detik […]

Yamaha memuji Maverick Vinales yang bekerja sangat baik pada hari pertamanya bersama mereka. Vinales tak cuma cepat di lintasan, tapi juga bisa memberi masukan-masukan yang sangat berharga untuk tim. Vinales menjadi pebalap tercepat dalam tes MotoGP di Sirkuit Ricardo Tormo, Selasa (15/11/2016). Pebalap Spanyol berusia 21 tahun itu mengukir waktu terbaik 1 menit 30,930 detik atau lebih cepat 0,02 detik daripada rekan setimnya di Yamaha, Valentino Rossi, yang berada di posisi kedua.

Hasil tersebut tentu sangat menggembirakan mengingat ini adalah kali pertama Vinales menjajal motor YZR-M1 milik Yamaha setelah direkrut dari Suzuki. Yamaha sendiri tak menyangka Vinales akan langsung sekencang ini. “Sangat bagus. Maksud saya, kami sama sekali tak meragukan soal kecepatannya, tapi kami tak bisa berharap dia akan sangat cepat sejak awal,” ujar manajer tim Yamaha, Massimo Meregalli, di Crash.net.

“Aspek lainnya yang benar-benar membuat kami terkesan adalah dia sangat sensitif terhadap perubahan, bahkan meski perubahan itu tidak banyak. Tapi, setiap kali mereka mengubah sesuatu, dia bisa merasakannya. Dan berdasarkan informasi, jawaban-jawaban yang dia katakan benar,” jelas Meregalli. “Dia sangat yakin ketika dia mengatakan apakah ini lebih baik atau lebih buruk. Ini amat penting, terutama kalau ada balapan di akhir pekan, ketika Anda tak punya banyak waktu dan Anda harus mempercepat penyetelan motor,” imbuhnya.

“Dia cukup mudah membiasakan diri dengan motor. Itu sangat bagus. Dia tidak melakukan kesalahan. Jadi, bagi saya, meski ini baru sehari, ini adalah hari yang sempurna,” kata Meregalli.

sumber : http://sport.detik.com

Prestasi Lorenzo di Valencia

Jorge Lorenzo menutup musim dengan manis usai memenangi seri terakhir di Valencia. Tapi secara keseluruhan, dia tak puas dengan performanya di sepanjang tahun. Di Sirkuit Ricardo Tormo, Minggu (14/11/2016), Lorenzo memenangi balapan terakhirnya bersama Movistar Yamaha setelah finis terdepan dengan waktu 45 menit 54,228 detik. Pebalap yang akan membela Ducati di musim depan itu unggul […]

Jorge Lorenzo menutup musim dengan manis usai memenangi seri terakhir di Valencia. Tapi secara keseluruhan, dia tak puas dengan performanya di sepanjang tahun.

Di Sirkuit Ricardo Tormo, Minggu (14/11/2016), Lorenzo memenangi balapan terakhirnya bersama Movistar Yamaha setelah finis terdepan dengan waktu 45 menit 54,228 detik. Pebalap yang akan membela Ducati di musim depan itu unggul 1,1 detik dari Marc Marquez dan lebih dari 6 detik dari Andrea Iannone di podium ketiga.

Bagi Lorenzo, ini adalah kemenangan keempatnya di musim 2016, usai sebelumnya didapat di Losail, Le Mans, dan Mugello. Jumlah kemenangan Lorenzo hanya kalah dari Marquez (5), yang menjadi juara dunia tahun ini.

Namun demikian, musim Lorenzo memang tidak bisa dibilang bagus. Lorenzo kurang konsisten dengan tiga kali retired dan menjalani paruh kedua musim yang sulit di mana dia banyak kehilangan angka di balapan basah yang terjadi di Assen, Sachsenring, dan Brno.

“Balapan terakhir 10, karena aku tidak bisa lagi finis dengan cara yang lebih baik,” ungkap Lorenzo di Crash.net.

“Musim ini lima karena terlalu banyak kesalahan dan kesulitan di kondisi dingin dan basah.”

Lorenzo menyudahi musim ini dengan finis ketiga dengan perolehan 233 poin di bawah rekan setimnya Valentino Rossi (249) dan Marquez (298). Selanjutnya, pebalap berusia 29 tahun itu akan menjajal motor Ducati untuk pertama kalinya dalam post-season test di Valencia.

sumber : sport.detik.com

Lorenzo Mulai Nyaman Lagi dengan Motornya

Belakangan performa Jorge Lorenzo menurun drastis. Itu semua dikarenakan Lorenzo tak menemukan feeling yang pas dengan motornya. Lorenzo awalnya melaju kencang dengan meraih 115 poin di enam seri pertama dan unggul 10 angka dari Marc Marquez. Tapi dari enam balapan terakhir, pebalap Movistar Yamaha itu terjun bebas. Pebalap Spanyol itu tak pernah menang lagi sejak […]

Belakangan performa Jorge Lorenzo menurun drastis. Itu semua dikarenakan Lorenzo tak menemukan feeling yang pas dengan motornya. Lorenzo awalnya melaju kencang dengan meraih 115 poin di enam seri pertama dan unggul 10 angka dari Marc Marquez. Tapi dari enam balapan terakhir, pebalap Movistar Yamaha itu terjun bebas.

Pebalap Spanyol itu tak pernah menang lagi sejak seri keenam di Italia dengan pencapaian terbaiknya yakni finis ketiga di Austria dari enam seri terakhir dan sekali tidak finis di Catalunya. Alhasil, Lorenzo pun turun ke posisi ketiga klasemen dan tertingal 64 poin dari Marc Marquez di puncak klasemen. Wajar saja jika Lorenzo mulai diragukan bakal bisa mempertahakan titel juara dunianya dengan enam seri tersisa.

Persoalan cuaca yang sering berubah, kepercayaan diri, dan terutama karakter ban michelin jadi penyeba Lorenzo tidak mampu tampil kompetitif. Tapi, hasil di dua latihan bebas MotoGP San Marino, Jumat (9/9) kemarin, menumbuhkan asa Lorenzo bahwa dia masih bisa bicara banyak di enam seri tersisa. Lorenzo sendiri menempat posisi kelima dan keempat tercepat di latihan bebas.

“Saya sangat senang karena setelah sekian lama, akhirnya saya merasa nyaman lagi dengan settingan motor dan saya bisa membalap seperti keinginan saya dan mampu mempertahankan kecepatan,” ujar Lorenzo di Autosport.

“Kami memutuskan untuk mengganti ban depan dan belakang dengan cepat saat sesi latihan, jadi kami tidak punya kesempatan memakai ban baru di akhir sesi seperti pebalap lain,” sambungnya.

“Karena itulah kami tidak bisa lebih cepat lagi, tapi apapun itu saya mulai menemukan kecepatan dan feeling yang bagus,” tutupnya.

Sumber : sport.detik.com

Jangan Pensiunkan Nomor 46, Kata Rossi

Valentino Rossi tidak ingin nomor 46 dipensiunkan ketika dia sudah tak lagi membalap. Rossi tak akan keberatan jika ada pebalap lain yang ingin memakainya. Rossi sudah sangat identik dengan nomor 46. Pebalap asal Italia itu sudah memakai nomor 46 sejak bergabung di grand prix pada tahun 1996 dan membangun merek VR46. Di hari di mana […]

Valentino Rossi tidak ingin nomor 46 dipensiunkan ketika dia sudah tak lagi membalap. Rossi tak akan keberatan jika ada pebalap lain yang ingin memakainya. Rossi sudah sangat identik dengan nomor 46. Pebalap asal Italia itu sudah memakai nomor 46 sejak bergabung di grand prix pada tahun 1996 dan membangun merek VR46.

Di hari di mana MotoGP memensiunkan nomor 58 milik mendiang Marco Simoncelli jelang MotoGP San Marino, Kamis (8/9/2016) waktu setempat, Rossi berharap hal tersebut tidak akan terjadi pada nomor 46. “Soal nomor saya (46), saya pikir kesan pertama saya adalah saya tidak suka nomor 46 tidak dipakai,” ujar Rossi seperti dikutip dari Motorsport.

“Saya lebih memilih itu tetap ada, dan jika ada pebalap lain ingin memakai nomor itu, dia bisa melakukannya,” ucapnya. Bicara soal rencana setelah pensiun, Rossi membuka peluang untuk membalap di Suzuka 8 Hours atau balapan ketahanan selama 8 jam. Sebelumnya, Rossi pernah juara di balapan tersebut pada tahun 2001 bersama Colin Edwards saat masih menunggangi Honda. “Saya sangat suka balapan itu dan saya juga suka membalap bersama Yamaha. Bagi saya, itu bisa saja. Tapi masalahnya tidak selama musim MotoGP, mungkin ketika saya berhenti,” kata Rossi.

“Saya terlalu tua dan kami tidak punya cukup waktu untuk tampil di 8 Hours, karena itu digelar di satu-satunya pekan atau 10 hari libur yang kami punya di antara paruh pertama dan kedua musim. Jadi jika Anda menghabiskan pekan itu di Suzuka, secara fisik dan mental itu adalah tekanan besar. Saya pikir itu bisa berpengaruh ke paruh kedua.” “Mungkin di masa depan ketika saya berhenti, saya ingin mencobanya bersama Yamaha. Itu adalah balapan yang hebat,” katanya.

sumber : sport.detik.com